Oleh : Riandi
Sedikit lebih baik dari orang lain adalah rahasia sukses dalam bisnis,
demikian yang dikatakan oleh almarhum Charles M. Schwab, mantan
pemimpin United States Steel Company. Jika dimodifikasi lebih lanjut
maka orang lain disini bisa diartikan sebagai pesaing. Dalam semua
aspek kehidupan, termasuk bisnis akan selalu terjadi persaingan. Ini
terjadi tentu saja karena ada pesaing untuk merebut, mendapat sesuatu
yang terbatas. Dalam konteks dunia bisnis tujuan yang hendak dicapai
adalah untuk memenangkan persaingan memenangkan hati konsumen. Membuat
konsumen jatuh cinta, loyal dan tentu saja akan terus berurusan,
membeli produk atau jasa yang dihasilkan dari bisnis. Untuk mencapai
itu semua bukanlah hal yang mudah karena ada pesaing yang menimbulkan
persaingan yang mau tidak mau harus dihadapi dan disiasati agar bisa
menang.
Berdasarkan asalnya maka secara garis besar ada dua jenis pesaing yang
umum dihadapi dalam bisnis. Jenis pesaing pertama adalah pesaing
eksternal. ini adalah pesaing paling umum yang biasanya bersifat
langsung. Setiap perusahaan akan menghadapi persaingan dari perusahaan
lainnya. Di kelas ponsel pintar, misalnya, Nokia berhadapan dengan
Apple, Samsung, Sony Ericcson, RIM, Motorola dan lain-lain. Di
persaingan yang seperti ini jelas yang perlu dilakukan untuk menang
bersaing adalah dapat memberikan sesuatu yang lebih tinggi nilainya di
mata konsumen. Research In Motion (RIM) dengan Blackberry-nya saat ini
unggul di penyediaan push mail di saat kompetitornya Nokia justru baru
meluncurkan produk serupa yaitu Nokia Messaging.
Selain menghadapi RIM Blackberry, Nokia juga punya lawan tangguh
lain yang berhasil memukul Nokia yaitu Apple dengan iPhone-nya.
Keunggulan fitur layar sentuh yang sensitif menjadikan iPhone menjadi
ponsel dambaan banyak orang karena faktor kenyamanan penggunaannya. Di
saat pasar ponsel sedang lesu, iPhone malah laku keras. Padahal
harganya tidaklah murah. Langkah Nokia meluncurkan Nokia 5800 Xpress
Music pun belum bisa berbicara banyak untuk menghadapi iPhone dari
Apple. Meskipun harganya lebih murah. Terutama ketika konsumen
membandingkan secara langsung fitur layar sentuh kedua ponsel tersebut
yang memang berbeda kelas. Disini jelas sekali bahwa produsen ponsel
sebesar Nokia pun bisa kewalahan bersaing karena terlambat
mengantisipasi tren baru ponsel yang diusung oleh RIM Blackberry
maupun Apple iPhone. RIM dan Apple berhasil memberikan sesuatu yang
sebenarnya diinginkan konsumen namun belum atau tidak diberikan secara
optimal oleh Nokia. Hanya perbedaan tipis yang justru menimbulkan efek
yang sangat luar biasa.
Jenis pesaing kedua adalah pesaing internal. Selain menghadapi pesaing
eksternal maka dalam bisnis ada juga pesaing internal yang biasanya
bersifat tidak langsung. Biasanya yang menjadi pesaing internal adalah
produk perusahaan itu sendiri yang sudah sukses pada saat ini. Produk
prosesor Intel jika tetap ingin diminati konsumen maka untuk produk
selanjutnya harus lebih baik dari prosesor sebelumnya. Meskipun AMD
dan Via menjadi pesaing namun ukuran pangsa pasar yang berhasil diraih
oleh mereka belum mampu sejajar dengan Intel. Sehingga dengan demikian
Intel justru tidak menghadapi pesaing dari luar seperti AMD dan Via
itu tadi. Justru yang menjadi pesaing Intel adalah produk Intel yang
telah sukses pada saat ini. Agar dapat terus diterima maka produk
Intel selanjutnya harus lebih baik lagi. Jika lebih buruk tentu saja
akibatnya tak akan dilirik oleh konsumen.
Microsoft dengan Windows juga selalu mengusahakan Windows keluaran
selanjutnya lebih baik dari sebelumnya. Apalagi persaingan di sistem
operasi komputer masih di dominasi oleh Windows dari Microsoft. Linux
sebagai sistem operasi pesaing juga belum mampu banyak berbicara.
Penggunaannya juga masih terbatas. Jika Microsoft ingin meluncurkan
sistem operasi Windows selanjutnya sudah pasti sudah jelas yang jadi
bahan perbandingan adalah versi sebelumnya. Hanya tinggal melakukan
penyempurnaan. Jelas, nama besar selain membawa keuntungan untuk lebih
mudah diterima konsumen juga membawa beban untuk terus melakukan,
memberikan sesuatu yang lebih baik jika ingin tetap unggul.
Baik menghadapi pesaing internal maupun internal maka hal pasti yang
perlu dilakukan adalah penyempurnaan. Perbaikan terus-menerus. Akan
tetapi, dalam rangka melakukan penyempurnaan sebenarnya hanya sedikit
hal yang benar-benar baru. Itu kalau dibandingkan dengan produk
sebelumnya. Jika benar-benar baru itu namanya revolusi. Jika
berkembang perlahan-lahan disebut evolusi. Lebih mudah berevolusi
daripada melakukan revolusi. Bahkan kalau dibandingkan dengan generasi
awal, produk evolusi akhir bisa dikatakan sebagai revolusi bagi
penemuan awal. Misalnya pada teknologi prosesor. Bila dibandingkan
dengan produk awalnya maka perbedaannya dengan generasi prosesor
terbaru bisa dikatakan bagai langit dan bumi. Baik dari segi
harga,ukuran maupun kemampuan. Jelas terlihat seperti revolusi. Tapi
jika prosesor generasi terbaru dibandingkan dengan prosesor generasi
sebelumnya maka perbedaannya juga tidak begitu banyak. Terlihat bahwa
generasi baru merupakan evolusi.
Hanya dengan melakukan sedikit lebih baik dari pesaing maka dapat
dihasilkan perbedaan yang mengarah kepada keunikan dan keunggulan.
Pada saat ini bisa dikatakan bahwa strategi yang paling efektif untuk
bisnis adalah dengan cara penyempurnaan, melakukan sedikit lebih baik
secara bertahap. Terutama karena strategi ini ampuh untuk meminimalkan
kecenderungan penolakan konsumen terhadap hal baru meskipun hal baru
tersebut mungkin lebih baik. Lebih banyak berdasarkan kepada yang
sudah ada sebelumnya. Dengan melakukan sedikit lebih baik secara
bertahap maka dapat diharapkan bisnis yang dapat memuaskan konsumen
dapat berlanjut secara kontinyu. Jika bisa berlangsung secara kontinyu
maka kelangsungan bisnis yang menjadi impian semua pebisnis dapat
terwujud dengan mulus. Hasil yang pasti adalah bisnis yang tak ada
matinya.
Riandi
Penulis adalah guru swasta mengajar di SMA PGRI Piasak, Selimbau,
Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia
Hp. 081352471543
ryandy2009.blogspot.com
No comments:
Post a Comment